Tantangan Program Rehabilitasi Mangrove

Hutan mangrove merupakan salah satu komponen ekosistem pesisir yang memiliki fungsi penting diantaranya sebagai penahan abrasi pantai, penahan intrusi air laut, menurunkan kadar CO2di udara, menjadi habitat berbagai macam biota, sumber makanan bagi spesies-spesies yang ada di sekitar, sebagai sumber mata pencaharian  dan sebagai sarana edukasi maupun rekreasi bagi masyarakat.Hilangnya fungsi dari ekosistem mangrove akan berakibat langsung terhadap ekosistem pesisir, akan tetapi ironisnya ekosistem mangrove yang mempunyai peranan penting bagi pesisir ini dalam kondisi yang kritis di beberapa daerah. Fakta menunjukan bahwa luasan ekosistem mangrove yang ada di Indonesia saat ini kian berkurang hal itu terjadi karena adanya perambahan mangrove yang dilakukan oleh masyarakat disekitarnya untuk kebutuhan perluasan lahan tambak, penebangan mangrove untuk bahan bangunan dan kayu bakar

Kerusakan hutan mangrove diakibatkan oleh penebangan mangrove dan konversi lahan mangrove menjadi kawasan pertambakan hal ini disebabkan oleh tuntutan  kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Berdasarkan data dari FAO (2007), luas hutan mangrove di Indonesia dari tahun 1980 hingga 2005 terus mengalami penurunan, yaitu dari 4.200.000 Ha menjadi 2.900.000 Ha. Dalam kurun waktu antara tahun 2000-2005, luas hutan mangrove di Indonesia mengalami penurunan sebesar 50.000 Ha atau sekitar 1,6 %.

Dalam rangka memulihkan kembali hutan mangrove, telah banyak dilakukan upaya rehabilitasi mangrove dengan melalukan penanaman kembali tanaman mangrove di daerah – daerah yang telah di tentukan, akan tetapi upaya rehabilitasi tersebut tidak selalu berhasil pencapaiain nya hal ini karena di pengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi mangrove di pengaruhi oleh beberapa aspek baik itu aspek fisik maupun aspek sosial. Tidak hanya faktor lingkungan fisik saja yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove akan tetapi pola penanaman mangrove juga sangat berpengaruh. Menurut Priyono (2010) menyebutkan bahwa dalam penenaman mangrove jenis mangrove yang akan di tanam harus sesuai dengan kondisi substrat, pada jenis substrat lumpur maka jenis mangrove yang cocok adalah jenis Rhizophora spp. Untuk substrat tanah berpasir jenis mangrove yang cocok untuk di tanam adalah jenis Avicennia sppdan Soneratia sp. Dan untuk jenis mangrove lainnya seperti Aegiceras spp, Lumnitzera spp, Excoecarla spp, Cerriops spp ,Bruguiera spp, Pandanus sppdan jenis lainnya bisa hidup bervariasi pada substrat lumpur berpasir. Teknik penanaman mangrove yang baik dilakukan adalah dengan menggunakan ajir. Guna dari ajir adalah untuk menjaga bibit mangrove agar tidak tumbang ketika terkena hempasan ombak. Jarak tanam ideal adalah 1m x 1m. Penanaman mangrove diatur sedemikian rupa agar jenis mangrove yang akan di tanam tidak bercampur dengan jenis lain hal ini untuk menghindari dari berubahnya sifat alami dari mangrove agar membentuk tegakan murni.

Dalam program rehabilitasi mangrove faktor sosial merupakan faktor yang paling rentan terhadap berlangsungnya program penanaman. Menurut Adry (2006) faktor sosial yang mempengaruhi dalam program rehabilitasi mangrove pada studi kasus program rehabilitasi mangrove di Kelurahan Kariangau dan Margo Mulyo Balikpapan Adalah sumber daya manusia, partisipasi masyarakat, koordinasi dan komunikasi, alokasi dana serta adanya peraturan yang terkait. Faktor –faktor tersebut pada umumnya sering terjadi di daerah lain juga.

Suatu program rehabilitasi dikatakan gagal atau tidak berhasil dikarenakan tidak tercapainya pencapaian program.  Kegagalan program rehabilitasi mangrove dipengaruhi juga oleh faktor ekonomi masyarakat yang rendah. Status ekonomi masyarakat yang rendah dapat memicu meluasnya area tambak di kawasan mangrove sehingga terjadi pembalakan hutan mangrove menjadi area tambak. Hal ini menjadi salah satu penyebab ketidak berhasilan program rehabilitasi mangrove. Tingkat keberhasilan program rehabilitasi mangrove bisa di lihat dari berbagai indikator keberhasilan yaitu pencapaian luas tutupan lahan yang telah di rehabilitasi, keberlanjutan program rehabilitasi dan dampak yang di timbulkan dari adanya program rehabilitasi (Novianty, 2013). Keterlibatan masyarakat dalam suatu program rehabilitasi menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam pencapaian sutu tujuan program. Masyarakat harus dilibatkan dalam sebuah program rehabiliasi mangrove ini dari mulai tahap perencanaan, implementasi sampai dengan monitoring. partisipasi masyarakat sangat penting untuk menjaga kontinuitas kegiatan rehabilitasi mangrove.

 

Penulis:
Sheila Zalessa, M.IL
Staff Pengajar Departemen Kelautan Universitas Padjadjaran
Untuk mensitasi artikel ini sebagai berikut:
Zalessa, S. 2019. Tantangan Program Rehabilitasi Mangrove. www.marine.fpik.unpad.ac.id